Kamis, 26 November 2009

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

Pembuatan edible film/coating dari bahan hasil pertanian dengan teknik isolasi dan modifikasi untuk mengawetkan buah-buahan tropis: laporan akhir RUT VII, 1999/2000 (Edible film/coating manufacturing from agricultural product as raw material using isolation and modification techniques for tropical fruits preservation: final report of RUT VII, 1999/2000)

Hasil pertanian merupakan biopolimer yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan pasar yang luas karena diperlukan dalam industri pangan, kosmetik dan obat-obatan. Contoh biopolimer adalah karbohidrat, protein dan lemak. Biopolimer kelompok karbohidrat milsalnya selulosa, alginat, pektin, karaginan, dan gum. Sumber biopolimer protein misalnya ikan, susu, telur, dan kacang-kacangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguasai teknik isolasi dan modifikasi biopolimer (alginat, pektin, pati) agar dapat dibuat film untuk mengawetkan buah-buahan tropis. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, masing-masing \ tahap satu tahun. Tahap 1 (April 1999-Maret 2000) meneliti teknik isolasi dan modifikasi biopolimer alginat dari rumput laut, pektin dari kulit semangka, pati dari ketela pohon dan jagung. Tahap II memodifikasi biopolimer agar dapat dijadikan film dengan sifat-sifat yang diinginkan untuk mempertahankan susut berat buah selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat biopolimer yang dihasilkan (alginat, pektin dan pati) memiliki kualitas yang memadai dibandingkan kualitas biopolimer yang dibeli secara komersial dari Jepang dan Amerika. Biopolimer yang dihasilkan dapat dimodifikasi untuk dipergunakan sebagai film dengan sifat fisik, mekanik dan barrier properties terhadap uap air yang baik. Film yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk memperkecil terjadinya susut berat buah selama penyimpanan atau dapatmemperlambat penurunan mutu buah. Hasil penelitian akan membawa dampak yang luas bagi tumbuhnya industri kecil pengelola hasil pertanian menjadi biopolimer karena;
1) tidak memerlukan teknologi tinggi dan modal besar;
2) biopolimer yang dihasilkan sangat diperlukan secara luas oleh industri pangan, kosmetik, tekstil dan obat-obatan. (Pengarang)

Pengembangan dan pembuatan prototipe two-stage moving bed dryer untuk pengeringan butiran: laporan akhir RUT VII, 1999/2001 (Development and production of two stage moving bed dryer prototype-for grain drying: final report of RUTVII, 1999/2001)

Indonesia merupakan negara agraris dengan banyak produk pertanian berbentuk butiran, seperti jagung, padi, kacang-kacangan, dan kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat pengering dengan mempertimbangkan proses yang terjadi dalam pengeringan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas produk pertanian untuk mempermudah operasi pengeringan. Agar kontak partikel besar seperti butiran dengan udara pengering dapat berlangsung baik dan beroperasi kontinu (untuk skala lebih besar) maka moving bed dryer lebih cocok dibandingkan dengan jenis pengering lainnya. Pemilihan dua tahap pengeringan didasarkan pada proses pengeringan yang dapat dibagi dalam dua tahap pengeringan yang dominan, tahap pemanasan awal (preheating) dan pengeringan (drying). Pada periode tahun pertama (1999/2000) penelitian pengeringan butiran dalam two stage moving bed dryer berfokus pada perancangan alat dan penelitian tentang karakteristik pengeringan serta kompartemen pengering dan pengembangan teori fundamental. Pada periode tahun kedua (2000/2001) penelitian telah berhasil menerapkan pengeringan untuk butiran padi dan jagung untuk unggun diam dan bergerak serta pemodelan proses pengeringan. Pada akhir tahun kedua juga telah dilakukan studi analisis energi termasuk perbandingan dengan tipe pengering lainnya. Pada tahun ketiga (2002/2002) penelitian telah menyelesaikan konsep perancangan, scaling up/down dan standardisasi alat pengering serta aplikasi 3 paten sedang diproses melalui UBER HAKI dan OLEHPATEN. Disimpulkan bahwa alat ini merupakan pilihan terbaik dalam pengeringan produk pertanian berbentuk butiran. Penerapan secara komersial alat pengering atau kompartemen pengering sedang ditindaklanjuti. (Pengarang)

Pengembangan metodologi evaluasi kesesuaian lahan kuantitatif pada tanah gambut: laporan akhir RUT VI, 1998/2000 (Development of compatibility evaluation metodology of quantitative peat land: final report of RUT VI, 1998/2000)

Evaluasi kesesuaian lahan pada tanah gambut menggunakan metode yang telah ada pada saat ini, sering menghasilkan kelas kesesuaian lahan yang tidak sesuai dengan produktivitas lahan yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik lahan yang paling berpengaruh dan menentukan kriterianya untuk evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman jagung dan padi, sehingga evaluasi lahan dapat menghasilkan kelas-kelas kesesuaian lahan yang sesuai dengan produktivitasnya. Penelitian dilakukan pada berbagai macam tanah gambut di areal Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar, Kalimantan Tengah, dengan melakukan pengamatan tanah dan produktivitasnya di lapang, pengambilan contoh tanah untuk analisis di laboratorium dan percobaan di kamar kaca, dan percobaan di lapangan. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis regresi bertatar, menunjukkan bahwa karakteristik lahan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah: pH (H2O), pH (CaCl2), P2O5, KB, KTK, Cadd, Mgdd, Kdd, Nadd, Hdd, Fe, Cu, Zn, Mn, DHL, dan kadar abu. Untuk tanaman padi, karakteristik lahan yang paling berpengaruh adalah: pH (H2O), pH (CaCl2), C-organik, P2O5, N total, KB, KTK, Hdd, dan Kadar abu. Pengharkatan masing-masing karakteristik lahan uang evaluasi kesesuaian lahan yang dapat menghasilkan kelas-kelas kesesuaian lahan yang sesuai dengan produktivitas tanahnya telah dapat dibuat dengan menggunakan program ALES.(Pengarang)

Pengembangan proses pengeringan beku ramuan obatan dengan pengendalian tekanan dan pemanasan secara siklik: laporan akhir RUT VI, 1990/2000 (Development of freeze-dried process of drug formula by using cyclic pressure and heat cyclic control: final report of RUT VI, 1990/2000)

Berbagai bahan biologis, khususnya bahan baku ramuan obat, mengalami kerusakan jika dipanaskan hingga suhu moderat yang umum digunakan pada pengeringan biasa. Pengeringan beku merupakan proses pengurangan air bahan dengan mekanisme sublimasi pada tekanan dan suhu rendah. Hasilpengeringan beku yang dilakukan dengan cara tepat akan dapat disimpan untuk jangka waktu yang sangat lama dengan mempertahankan sifat fisik, kimia, biologi, dan organoleptik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk:
1) melakukan kajian kinetika pengeringan beku bahan ramuan obat;2) melakukan kajian proses perpindahan panas dan massa selama pengeringan beku;
3) mengembangkan model simulasi pengeringan beku bahan ramuan obat.

Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan alat multi-purpose vacuum equipment. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan distribusi suhu di dalam bahan, perubahan tekanan ruangpengering, dan perubahan massa baik selama proses pembekuan maupun selama proses sublimasi. Analisis mutu hasil pengeringan dilakukan dengan metode standar Materia Medika Indonesia (MMI). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa proses pengeringan beku yang optimal dapat dicapai dengan mengendalikan suhu permukaan bahan pada suhu kamar 25 °C, dan tekanan ruang pengering pada tingkat 75 Pa selama proses sublimasi dengan sistem pemanasan radiatif. Waktu pengeringan lebih dipengaruhi oleh laju pembekuan dan tekanan ruang pengering. Mutu hasil pengeringan beku ramuan obat mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan mutuawal, tetapi lebih daripada mutu hasil pengeringan oven, dan memenuhi standar MMI. Tekanan ruang pengering berpengaruh positif terhadap nilai konduktivitas lapisan kering bahan, dan selanjutnya berpengaruh positif terhadap efisiensi penggunaan kalor yang dihantarkan melalui lapisan kering tersebut untuk proses sublimasi. Model matematika yang berhasil dikembangkan baru pada keadaan timah-semen; dan harus disempurnakan dengan mengikutsertakan bagian proses yang berlangsung secara transien. (RNR)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar